29 April 2018

Awas Bahaya Minum Teh Setelah Makan!!


Awas Bahaya Minum Teh Setelah Makan!!
tiap kali makan di warung-warung atau di rumah makan biasa menu minuman yang paling standar adalah teh dan jeruk baik es maupun panas. tapi taukah kita efek yang kita dapat dengan minum teh setelah makan?
Berdasarkan riset dari Bagian Kesehatan Ibu dan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang di dapat bahwa minum teh baek teh panas maupun es teh setelah makan terbukti bisa mengakibatkan anemia.

berbeda dengan kopi yang mengurangi daya serap sel darah terhadap zat besi hanya 39 %. Pengurangan daya serap akibat teh ini lebih tinggi daripada akibat sama yang ditimbulkan oleh minum segelas kopi setelah makan.  Minum teh paling tidak sejam sebelum atau setelah makan akan mengurangi daya serap sebesar 64 %.
efek pengurangan daya serap zat besi itu diakibatkan oleh zat tanin dalam teh. Selain mengandung tanin, teh juga mengandung kafein, polifenol, albumin, dan vitamin. Tanin bisa mempengaruhi penyerapan zat besi dari makanan terutama yang masuk kategori heme non-iron, misalnya padi-padian, sayuran, dan kacang-kacangan.

“Bila kita makan menu standar plus segelas teh, zat besi yang diserap hanya setengah dari yang semestinya”
Menurut Dr. Rachmad Soegih, ahli gizi dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, zat tanin itu sendiri memang menghambat produksi hemoglobin. Kalau memang mau menghindari teh dan mendapatkan banyak zat besi, sebaiknya teh digantikan air jeruk sebagai peneman makan.

“Makan nasi pecel dengan jeruk memperbesar penyerapan zat besi bila dibandingkan dengan minum es teh”
Kenapa? Vitamin C ternyata memperbesar penyerapan zat besi oleh tubuh.
Apakah fakta ini membuat minum teh harus ”diharamkan” sama sekali? Jangan salah. Soalnya, teh mengandung zat lain yang berfungsi positif. Ada kiat minum teh yang tepat, agar minuman ini tidak menghambat produksi zat besi dalam sel darah:
* Teh akan berefek baik bagi tubuh bila dikonsumsi pada pagi dan sore, disertai karbohidrat dan protein, misalnya roti dan biskuit.
* Kiat lain, memberikan jeda minum teh setelah makan, misalnya dua jam setelah makan.
Jeda itu diperlukan karena rentang waktu itu diperkirakan cukup bagi usus 12 jari dan usus halus bagian atas untuk melakukan proses penyerapan makanan.
Jadi, boleh-boleh saja menyeruput teh kapan pun, asal tidak setelah makan. So, tunggu apalagi, buat secangkir teh hangat sekarang dan nikmatin deh
semoga bermanfaat

9 Mitos Kesehatan Yang Menyesatkan


9 Mitos Kesehatan Yang Menyesatkan
 
Kita banyak mendengar informasi kesehatan yang beredar dari mulut ke mulut di masyarakat. Kita menganggapnya sebagai kebenaran karena hampir semua orang memercayainya. Padahal, sebagian adalah mitos yang tidak didukung kebenaran ilmiah. Berikut adalah sembilan di antaranya.

1. Membaca dalam gelap merusak mata Anda

Pernahkah Anda dinasihati agar tidak membaca dalam gelap karena dapat merusak mata? Membaca dalam kegelapan hanya akan melelahkan mata tetapi tidak merusak mata kita.

2. Jantung ada di sebelah kiri dada.

Hampir setiap orang bila ditanya di mana letak jantung maka akan memegangi dada sebelah kiri. Ini adalah pemahaman yang salah. Jantung terletak hampir di tengah-tengah dada kita, tersimpan aman di belakang rongga dada.

3. Stress dapat membuat rambut beruban dalam semalam.

Bukti memang menunjukkan bahwa stres dapat mempercepat rambut beruban. Seseorang yang mengalami ketegangan dan kesedihan dalam waktu lama dapat lebih cepat memiliki rambut beruban. Namun, prosesnya tidak dalam satu malam. Proses perubahan warna rambut menjadi abu-abu terjadi secara bertahap. Pola perubahan warna biasanya bersifat genetik, ada rambut yang tetap hitam ada juga yang berubah abu-abu.

4. Cara terbaik menjadi langsing adalah makan sesedikit mungkin.

Jika Anda makan sangat sedikit, berat badan Anda akan turun cepat, yang tampaknya sangat efektif. Tapi dalam jangka panjang hal itu buruk bagi kesehatan maupun berat badan Anda. Jika Anda makan terlalu sedikit, Anda akan kekurangan vitamin dan mineral sehingga lemah dan lelah. Tubuh Anda akan kekurangan energi yang diperlukan dan akan mencari sumber energi alternatif dengan membakar lemak otot. Metabolisme tubuh juga melambat, karena massa otot berkurang membuat pembakaran lebih lambat. Tubuh Anda menjadi sangat efisien. Bila Anda kemudian putus diet dan makan lebih banyak (mayoritas orang melakukannya), maka kombinasi efisiensi dan asupan kalori berlebih akan membuat berat badan Anda cepat naik kembali. Seringkali berat Anda lebih dari sebelumnya. Ini sering disebut efek yoyo. Cara terbaik menjadi langsing adalah dengan program bertahap yang mengkombinasikan penurunan asupan kalori dan peningkatan pembakarannya.



5. Cara terbaik mengatasi cegukan adalah meminum air

Secara medis, tidak ada bukti efektivitas meminum air atau menahan nafas dalam mengatasi cegukan. Sebaliknya, menurut rekomendasi lama dari New England Journal of Medicine (1971), menelan sesendok butiran gula pasir justru lebih efektif. Menurut studi itu, taktik ini berhasil menghentikan cegukan pada 19 dari 20 pasien.

6. Kedinginan membuat Anda rentan terkena flu

Sebuah penelitian pernah dilakukan di Common Cold Research Unit, Salisbury, Inggris, di mana sekelompok relawan diinokulasi dengan virus selesma yang didekatkan ke hidung mereka. Setengah kelompok ditempatkan di ruangan yang hangat sedangkan sisanya mandi dan basah kuyup selama setengah jam, kemudian berpakaian tapi memakai kaus kaki basah selama beberapa jam lagi. Kelompok basah tidak terkena flu lebih banyak daripada kelompok kering. Kesimpulan: kedinginan tidak memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

7. Susu hangat membuat anak mudah tertidur

Susu mengandung sedikit tryptophan, sejenis asam amino yang berefek memudahkan tidur. Namun, Anda perlu bergalon-galon susu untuk merasakan efeknya. Bila Anda mendapati anak Anda jadi mudah tertidur setelah minum susu, sebenarnya rutinitasnyalah yang membantu anak menjadi tenang.

8. Kita hanya menggunakan 10 persen otak kita.

Sejumlah studi pencitraan otak telah menunjukkan bahwa tidak ada satu wilayah pun di otak yang benar-benar diam atau tidak aktif. Pencitraan otak secara rinci telah gagal mengidentifikasi 90 persen isi otak yang “tidak termanfaatkan”. Mitos bahwa otak kita baru sebagian kecil saja yang dimanfaatkan mungkin berasal dari para penjual yang mencoba menawarkan “inovasi baru” dalam meningkatkan kemampuan otak.

9. Mencukur membuat rambut tumbuh kembali lebih cepat dan kasar.

Waxing, mencukur atau mencabut rambut tidak akan mengubah tekstur atau kecepatan pertumbuhannya. Rambut yang baru tumbuh kembali memang tumpul, tapi lama-kelamaan akan tampak persis seperti rambut Anda sebelumnya.

[kesehatananda.com]

Ternyata Merokok di Pagi Hari, 2 Kali Lebih Berbahaya


Hampir sebagian besar orang tahu bahwa kebiasaan merokok bisa merusak kesehatan. Namun tahukah Anda, merokok di pagi hari ternyata dua kali lebih berbahaya?

Sebuah penelitian yang melibatkan 7000 perokok, dilakukan oleh para ilmuwan dari Penn State College of Medicine, Amerika. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa seseorang yang menghisap sebatang rokok, 30 menit setelah bangun tidur memiliki risiko terkena kanker paru-paru dua kali lebih besar.

Dari semua partisipan penelitian terdapat 4776 perokok yang sudah menderita kanker paru-paru, sedangkan perokok lainnya sehat. Dibandingkan dengan mereka yang merokok pada satu jam setelah bangun tidur, orang yang langsung merokok setelah bangun tidur memiliki kemungkinan sebesar 79% terkena kanker. Namun dilihat secara keseluruhan, berapa banyak rokok yang dihisapnya tidak memperngaruhi angka tersebut.

"Perokok pagi hari memiliki tingkat nikotin yang tinggi dan racun lain dari tembakau di tubuhnya. Mereka juga lebih kecanduan daripada perokok yang menahan diri untuk tidak merokok setengah jam atau lebih setelah bangun tidur," kata salah satu peneliti, Joshua Muscat, seperti yang dikutip dari Genius Beauty.

Pada penelitian lain yang mengikut sertakan 1.850 perokok, 1055 dari mereka menderita kanker kepala dan leher. Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa mereka yang merokok dalam waktu 30 menit saat bangun berisiko 59% membuat penyakit kankernya lebih berbahaya dibandingkan dengan mereka yang menunggu satu jam.

Para peneliti mengatakan, temuan ini dapat membantu mengidentifikasi perokok yang berisiko sangat tinggi terhadap kanker paru-paru, otak, dan leher serta mendapat manfaat dari program penghentian merokok yang ditargetkan. Walau begitu, risiko menderita kanker tetap akan terus meningkat jika Anda masih terus melakukan kebiasaan merokok tanpa kenal waktu.

Sumber: detikSurabaya.com

Kalau Kita Makan Mie Instan Sebelum Tidur, Kenapa Waktu Bangun Wajah Kita Jadi Bengkak?


Kalau kita makan mie instan kalau langsung tidur, keesokan harinya wajah kita pasti seperti bengkak, kan? Bengkaknya wajah atau tubuh kita ada hubungannya dengan jumlah garam yang masuk ke tubuh. Pada waktu tidur pun manusia mengeluarkan keringat untuk menjaga suhu tubuh. Biasanya manusia mengeluarkan keringat kira-kira 1 cangkir, tetapi kadang-kadang kita juga bisa mengeluarkan keringat lebih dari 1 liter dalam satu jam.

Kuah mie instan mengandung banyak sekali garam. Kalau sejumlah besar garam masuk ke tubuh, air di dalam tubuh tidak dikeluarkan melalui keringat ataupun air seni karena digunakan untuk menurunkan kadar garam di dalam tubuh. Padahal kemampuan tubuh pada malam hari berbeda dari siang hari. Pada malam hari, kemampuan tubuh untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna berkurang, sehingga akhirnya menumpuk di dalam tubuh.

Jadi penyebab wajah kita bengkak setelah malam sebelumnya makan mie instan lalu langsung tidur adalah karena menumpuknya air di dalam tubuh, karena semua air itu digunakan untuk menurunkan kadar garam tubuh kita. Bukan hanya mie isntan, kalau kita makan makanan asin sebebelum tidur, keesokan harinya wajah atau tubuh kita juga akan jadi bengkak

Lowongan Kerja PT Nestle Indonesia April 2018

Lowongan Kerja PT Nestle Indonesia April 2018

Sales Executive Modern Trade

Persyaratan:
  • Pendidikan S1/S2 dari Semua Jurusan
  • Bahasa yang diperlukan: Bahasa Inggris
  • Setidaknya 2 Tahun pengalaman kerja di bidang terkait diperlukan untuk posisi ini.
  • Keahlian yang Diperlukan:
    • Mendorong Saluran / Pengetahuan Pelanggan
    • Menetapkan strategi penjualan yang unggul
    • Hubungan dan kolaborasi pelanggan yang terintegrasi
    • Mendorong pertumbuhan yang menguntungkan berkelanjutan
    • Perencanaan bisnis yang efektif
    • Penjualan yang efektif
    • Negosiasi yang efektif
  • Lebih disukai Supervisor / Koordinator khusus dalam Penjualan - Korporasi atau setara.

Pendaftaran:
Bagi Anda yang tertarik untuk melamar dan tentunya telah memenuhi setiap persyaratan yang dibutuhkan pada Lowongan Kerja PT Nestle Indonesia tersebut. Segera daftarkan diri Anda dengan melakukan pendaftaran secara online.

Tertarik, DAFTAR

Info Rekrutmen:
  • Proses seleksi rekrutmen lowongan PT Nestle Indonesia tidak dipungut biaya apapun
Closing Date: 3 Mei 2018

28 April 2018

A Different Kind of Secret Code



Researchers have invented a new form of secret messaging using bacteria that make glowing proteins only under certain conditions. In addition to being useful to spies, the new technique could also allow companies to encode secret identifiers into crops, seeds, or other living commodities. 

The new glowing bacteria actually did grow out of a bit of cloak-and-dagger thinking. Several years ago, the Defense Advanced Research Projects Agency asked researchers to submit ideas for ways to encode secret messages without the need for electronics. At the time David Walt, a chemist at Tufts University in Medford, Massachusetts, teamed up with his former adviser George Whitesides, a chemist at Harvard University. Together, they came up with a way to add a variety of metal salts to a fuse that, when lit, would give off a sequence of pulses of infrared light that encoded a message. That got them thinking about other ways to accomplish the same thing. And so last year they decided to try something else, using bacteria to encode their secrets. 

The new scheme replaces the fuse with seven colonies of Escherichia coli bacteria, each given a gene for a different fluorescent protein. When, and only when, these genes are turned on do the bacteria make these proteins and light up. The colors, including yellow, green, and red, vary based on which gene is expressed. All are clearly visibly different to the naked eye. With their colorful bacterial colonies in hand, the researchers then created a code using pairs of different colored bacteria. Having seven colors gave them 49 combinations, which they used to encode the 26 different letters and 23 alphanumeric symbols such as "@" and "$." They wrote a message by simply blotting pairs of colored bacteria in rows. To "print" the message, the researchers transferred the bacteria onto a plate containing agar, a bacterial growth medium, into which they pressed a sheet of nitrocellulose "paper" that immobilizes the bacteria. 

At this point, the bacteria on the nitrocellulose paper remain invisible. But the message receiver can turn on the key genes and make the colors light up by pressing the nitrocellulose paper into an agar plate containing a chemical trigger that activates expression of the fluorescent proteins. (The proteins chosen to light up are ones the bacteria don't normally use, so unless the researchers activate them, they stay quiescent.) As long as the receiver knows which colors correspond to which characters, the message is revealed. But Walt and his colleagues added one more safeguard as well. Into some bacteria they inserted genes for resistance to particular antibiotics; the idea is that only the antibiotic-resistant bacteria are carrying the real message. If the message fell into the wrong hands, the receiver would see a mix of colors once the genes were activated and be unable to read it. But if the decoder added the right antibiotic, nonresistant bacteria and their colors die away, and the message becomes clear. The first example, reported in today's issue of the Proceedings of the National Academy of Sciences reads "this is a bioencoded message from the walt lab @ tufts university 2010." 

"It's a really cool idea," says Kenneth Suslick, a chemist at the University of Illinois, Urbana-Champaign. So cool in fact that much the same idea was suggested in Spiral, a science-fiction thriller published earlier this year by Cornell University physicist Paul McEuen. In the book, Liam Connor, an aging fungal biologist with enemies, encodes clues to solving a decades-old mystery by inserting genes for fluorescent proteins in the DNA of various fungi. Walt says he hadn't heard of the book, though as a science-fiction fan he's eager to read it. Now with the help of his glowing bacteria, he can write a few mysteries of his own.

Two weeks before his death, Stephen Hawking predicted 'the end of the universe'




  • The world-famous physicist, who died last Wednesday aged 76, was a co-author to a mathematical paper in which he sought to prove the so-called "multiverse" theory, according to a report by U.K. newspaper The Sunday Times.
  • Hawking's final work — titled "A Smooth Exit From Eternal Inflation" — is being reviewed by a leading scientific journal.
  • In it, he predicted how our universe would eventually fade to darkness as the stars run out of energy.


Stephen Hawking completed a theory outlining his prediction for the end of the world just two weeks before his death, it has emerged.

The world-famous physicist, who died last Wednesday aged 76, was a co-author to a mathematical paper in which he sought to prove the so-called "multiverse" theory, according to a report by U.K. newspaper The Sunday Times. This theory imagines the existence of many separate universes other than our own.

Hawking's final work — titled "A Smooth Exit From Eternal Inflation" — is being reviewed by a leading scientific journal. In it, he predicted how our universe would eventually fade to darkness as the stars run out of energy.

Alongside Professor Thomas Hertog of Belgium's KU Leuven University, Hawking also proposed a way in which scientists might be able to find alternate universes by using probes on space ships. This would allow humans to attain a more accurate understanding of our own universe, decipher what else is out there and ultimately realize our place in the cosmos.

"He has often been nominated for the Nobel and should have won it. Now he never can," Hertog told The Sunday Times in an interview published Sunday.

'Intelligent life may be watching'

Hawking, who was perhaps best known for his work on black holes and the theory of relativity, had previously posited the idea that Earth would turn into a giant ball of fire by 2600. Therefore, humans would eventually need to colonize another planet or face extinction, he said.

In 2015, Hawking joined Russian billionaire Yuri Milner to launch a project that aimed to use high-powered computers to listen for aliens. The project, known as Breakthrough Initiatives, supports SETI@home, a scientific experiment based at the University of California, Berkeley. It uses computers to scan the skies to look for life.

"Somewhere in the cosmos, perhaps, intelligent life may be watching these lights of ours aware of what they mean," Hawking said. "Or do our lights wander a lifeless cosmos, unseen beacons announcing that here on our rock, the universe discovered its existence?"



— CNBC's Arjun Kharpal contributed to this report.
source : (www.cnbc.com)


Physicists Turn a Single Atom Into a Mirror



You can't get much smaller than this: Physicists have fashioned a mirror from a single atom. The advance might lead to an atom-sized transistor for light, and experts say it bodes well for broader efforts to shrink optical elements to the nanometer scale.
"In terms of the basic physics, it's incredibly cute," says Christian Kurtsiefer, an experimental physicist at the National University of Singapore, who was not involved in the work. "It's a very striking effect because you wouldn't necessarily expect that a single atom would exert a lot of influence on the flow of light."
In fact, the atom effectively reflects less than 1% of the light that hits it. So to detect the reflection, Gabriel Hétet, Rainer Blatt, and colleagues at the University of Innsbruck in Austria relied on a wave effect known as interference. They fashioned a device called a Fabry-Pérot interferometer, which ordinarily consists of two mirrors facing each other. Laser light of a fixed wavelength shines on the back of one mirror and some leaks through the mirror, entering the "cavity" between the mirrors. A small amount of light then leaks through the second mirror, while most of it reflects back toward the first. The reflected light can make multiple roundtrips between the mirrors. Each time, a little more light can leak through the second, farther mirror. (A similar effect takes place at the first mirror, too.)
Here's where the interference comes in. If the roundtrip distance between the mirrors equals a multiple of the light's wavelength, then all the light waves leaking through the second mirror will be in sync and reinforce each other, greatly increasing the transmission. If this roundtrip distance is slightly different, all those waves will be out of sync and cancel each other out, reducing the transmission. So the amount of transmitted light goes up and down as the distance between the mirrors increases.
Hétet, Blatt, and colleagues replaced the second mirror with a single atom—actually a barium ion. To focus the light on the atom and collect the light bouncing off it, they put a 1.5-centimeter-wide lens between it and the mirror. To hold the ion steady 14 millimeters away from the mirror, they captured it in an electronic trap and used other laser beams to cool it so that it jiggled no more than 20 nanometers from the trap's center. Finally, they tuned the wavelength of the light entering the interferometer so that it could "excite" the atom from a particular low-energy state to a higher-energy one. Without such a light-atom interaction, the atom can't affect the light.
The interferometer wasn't perfect. As the researchers moved the ion away from the mirror, the amount of light coming through the system varied by about 6%, they report in a paper to be published in Physical Review Letters. In a standard Fabry-Pérot, the transmitted light will fall to essentially zero if the roundtrip distance between the mirrors is just a little off the required spacing. Still, the data show the atom working as a mirror.
So what's this tiny mirror good for? In principle, it helps extend a theoretical approach known as cavity quantum electrodynamics. A cavity like a Fabry-Pérot can change the vacuum of empty space to allow only certain quantum states of light to exist between its mirrors—those with correct wavelengths. The new experiment shows that a mirror and a single atom can exert the same sort of influence.
More practically, with a better lens to increase the effective reflectivity of the atom, the device might make a building block for an optical version of electronics. "One can think of moving the mirror to make the atom transmit or reflect the light, which would make it a transistor" for light, Hétet says. In principle, such an optical system could be faster and more efficient than current electronics. A tack better suited to all-optical systems would be to use a single photon from yet another laser to control the atom's reflectivity by changing its internal state, Kurtsiefer says: "That's the hard part."
The experiment comes as good news to scientists striving to make ever smaller optical devices, says David Kielpinski, a physicist at Griffith University in Brisbane, Australia. Physicists don't fully understand whether the properties of optical devices will change as the devices shrink to atomic scale, Kielpinski says: "This work tells you, 'Hey, it's okay to build optical components out of a few atoms. There's nothing lurking around the corner to kill that enterprise.' "

Neutrinos Travel Faster Than Light, According to One Experiment



Fat lady singing? The OPERA particle detector may have spotted neutrinos traveling faster than light, which would bring down the curtain on special relativity as an exact theory.
Credit: OPERA collaboration

If it's true, it will mark the biggest discovery in physics in the past half-century: Elusive, nearly massless subatomic particles called neutrinos appear to travel just faster than light, a team of physicists in Europe reports. If so, the observation would wreck Einstein's theory of special relativity, which demands that nothing can travel faster than light.

In fact, the result would be so revolutionary that it's sure to be met with skepticism all over the world. "I suspect that the bulk of the scientific community will not take this as a definitive result unless it can be reproduced by at least one and preferably several experiments," says V. Alan Kostelecky, a theorist at Indiana University, Bloomington. He adds, however, "I'd be delighted if it were true."

The data come from a 1300-metric-ton particle detector named Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus (OPERA). Lurking in Italy's subterranean Gran Sasso National Laboratory, OPERA detects neutrinos that are fired through the earth from the European particle physics laboratory, CERN, near Geneva, Switzerland. As the particles hardly interact at all with other matter, they stream right through the ground, with only a very few striking the material in the detector and making a noticeable shower of particles.

Over 3 years, OPERA researchers timed the roughly 16,000 neutrinos that started at CERN and registered a hit in the detector. They found that, on average, the neutrinos made the 730-kilometer, 2.43-millisecond trip roughly 60 nanoseconds faster than expected if they were traveling at light speed. "It's a straightforward time-of-flight measurement," says Antonio Ereditato, a physicist at the University of Bern and spokesperson for the 160-member OPERA collaboration. "We measure the distance and we measure the time, and we take the ratio to get the velocity, just as you learned to do in high school." Ereditato says the uncertainty in the measurement is 10 nanoseconds.

However, even Ereditato says it's way too early to declare relativity wrong. "I would never say that," he says. Rather, OPERA researchers are simply presenting a curious result that they cannot explain and asking the community to scrutinize it. "We are forced to say something," he says. "We could not sweep it under the carpet because that would be dishonest." The results will be presented at a seminar tomorrow at CERN.

The big question is whether OPERA researchers have discovered particles going faster than light, or whether they have been misled by an unidentified "systematic error" in their experiment that's making the time look artificially short. Chang Kee Jung, a neutrino physicist at Stony Brook University in New York, says he'd wager that the result is the product of a systematic error. "I wouldn't bet my wife and kids because they'd get mad," he says. "But I'd bet my house."

Jung, who is U.S. spokesperson for a similar experiment in Japan called T2K, says the tricky part is accurately measuring the time between when the neutrinos are born by slamming a burst of protons into a solid target and when they actually reach the detector. That timing relies on the global positioning system, and the GPS measurements can have uncertainties of tens of nanoseconds. "I would be very interested in how they got a 10-nanosecond uncertainty, because from the systematics of GPS and the electronics, I think that's a very hard number to get."

No previous measurements obviously rule out the result, says Kostelecky, who has spent 25 years developing a theory, called the standard model extension, that accounts for all possible types of violations of special relativity in the context of particle physics. "If you had told me that there was a claim of faster-than-light electrons, I would be a lot more skeptical," he says. The possibilities for neutrinos are less constrained by previous measurements, he says.

Still, Kostelecky repeats the old adage: Extraordinary claims require extraordinary evidence. Even Ereditato says that one measurement does not extraordinary evidence make.

Boosting the Force of Light




The force exerted by light can be sufficient to manipulate nano- and micron-sized objects. These effects can be exploited to trap and move atoms and particles in devices such as optical tweezers, or to generate displacements in nanoscale optomechanical systems. Writing in Physical Review Letters, Vincent Ginis at the Vrije Universiteit Brussel, Belgium, and colleagues demonstrate theoretically that metamaterials can be used to dramatically enhance the optically induced mechanical forces between two coupled waveguides.

In optical waveguides the electric field decays exponentially with distance, with a peak at the center of the waveguide. If two waveguides are placed in such proximity that the decaying fields overlap, this may cause an optically induced attractive or repulsive force between the two structures. The authors propose a device in which two optical waveguides, cladded with a metamaterial layer, are separated by a thin air gap. The presence of the metamaterial enhances the electric field at the edges of the modified waveguides, which in turn increases the magnitude of the optical force.

Ginis et al. modeled two types of metamaterials: single-negative (in which only the relative permittivity is negative) and double-negative (in which the permittivity and permeability are both negative, resulting in a negative index of refraction). In both cases the optical forces are enhanced, but the effect is stronger for single-negative metamaterial cladding, in which certain resonant losses can be avoided. Single-negative metamaterials can be formed from a stack of thin metal sheets, a configuration easily realizable experimentally. These results open the way for the design of new actuation devices, which can generate optical forces with magnitudes not currently achievable. – Katherine Thomas

Lowongan Transjakarta 2018

Posisi Loker Transjakarta Busway : 

1. Pengemudi Bus

Kualifikasi Loker :

  • Usia minimal 27 tahun, maksimal 45 tahun.
  • SIM minimal B1 Umum.
  • Siap bekerja dengan model Shift.
  • Memiliki integritas dan disiplin yang baik.
  • Memiliki jiwa responsif mengenai permasalahan di kendaraan.

Kelengkapan Berkas

  • Fotocopi KTP, Ijazah, Kartu Keluarga, NPWP, dan SIM.
  • Surat Keterangan Sehat.
  • SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian).
  • Surat Keterangan Domisili.

Tupoksi :

  • Mengendarai bus sesuai rute dan dengan kecepatan yang sesuai dengan aturan.
  • Menjaga keselamatan pelanggan, khususnya saat proses naik dan turun.
  • Mengecek kesiapan bus untuk beroperasi.
  • Proaktif memberikan informasi keadaan bus agar proses perbaikan atau pemeliharaan dapat dilakukan.

2. Petugas Layanan Bus

Kualifikasi Loker :

  • Usia Minimal 21 Tahun, Maksimal 30 Tahun
  • Tinggi Badan Laki – Laki minimal 165 Cm, Perempuan minimal 160 cm (berat badan ideal)
  • Pendidikan Minimal SMA – D3
  • Domisili di Jakarta
  • Memiliki integritas dan disiplin yang baik
  • Memiliki jiwa pelayanan terhadap pelanggan
  • Responsif terhadap situasi di dalam bus
  • Bersedia bekerja dengan metode shift
  • Bersedia ditempatkan di seluruh koridor PT Transportasi Jakarta
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik
  • Tidak bertato dan bertindik (bagi laki-laki)

Tupoksi

  • Bertanggung jawab atas kebersihan Bus dan keselamatan, keamanan serta kenyamanan pelanggan di dalam Bus;
  • Membantu pelanggan dalam proses masuk dan keluar dari Bus ke Halte ataupun sebaliknya;
  • Proaktif memberikan informasi keadaan bus agar proses perbaikan atau pemeliharaan dapat dilakukan;
  • Proaktif memberikan informasi tentang halte yang menjadi pemberhentian.

3. HRIS Specialist

Kualifikasi Loker :

  • Usia maksimal 30 tahun.
  • D3/S1 diutamakan dari IT.
  • Pernah bekerja di dalam sistem HRIS atau vendor HRIS minimal 2 tahun.
  • Mengerti SQL server dan bahasa pemrograman berbasis WEB.
  • Diutamakan mengerti aturan ke-HRD-an dan pajak karyawan.
  • Full Time position.

Tupoksi
  • Menganalisa dan merancang proses perbaikan pada sistem HRIS.
  • Membuat flow proses dari setiap fungsi HRIS yang dilaksanakan.
  • Mengontrol pelaksanaan penggunaan HRIS yang dijalankan HRD.

 

4. Attendance Officer

Kualifikasi Loker :

  • Usia maksimal 30 tahun.
  • D3/S1.
  • Punya pengalaman mengurus attandance atau absensi minimal 2 tahun.
  • Bisa mengoperasikan MS Office.
  • Diutamakan mengerti hardware finger print.
  • Full Time Position.

Tupoksi

  • Mengolah data absensi dari seluruh karyawan.
  • Mengontrol pelaksanaan absensi baik hardware maupun software.
  • Merekomendasikan perbaikan yang berhubungan dengan mekanisme absensi di perusahaan.

5. Mekanik

Kualifikasi Loker :

  • Usia maksimal 35 tahun.
  • Pendidikan SMK.
  • Memiliki pengalaman minimal 5 tahun untuk kendaraan alat berat (BUS, TRUK).
  • Berpengalaman menangani Bus China maupun Eropa.
  • Memiliki pengetahuan tentang spare part.
  • Diutamakan yang menyukai otomotif.
  • Domisili di Jakarta.
  • Memiliki integritas dan disiplin yang baik.
  • Memiliki jiwa responsif mengenai permasalahan di kendaraan.
  • Bersedia bekerja dengan metode shift.
Tupoksi
  • Bertanggung jawab atas proses perbaikan dan maintenance kendaraan Bus.
  • Melakukan proses pengecekan kondisi Bus sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.
  • Melakukan proses administrasi setelah melakukan perbaikan dan atau pengecekan Bus.

6. Corporate Legal

Kualifikasi Loker :

  • Laki-laki/Perempuan;
  • Usia 30 – 35 tahun;
  • Pendidikan S1/S2 Ilmu Hukum dari Universitas terkemuka;
  • Pengalaman minimal 5 tahun pada legal Perusahaan;
  • Memiliki pengetahuan yang baik menganai aspek hukum perjanjian dan aspek hukum perusahaan;
  • Memiliki keterampilan interpersonal yang baik;
  • Dapat bekerja dalam jadwal yang ketat;
  • Memiliki keterampilan berbahasa inggris lisan dan tulisan yang baik.

Kelengkapan Berkas :
  • Lamaran Lengkap;
  • CV;
  • Fotocopi ijazah;
  • Fotocopi KTP;
  • Fotocopi Kartu Keluarga;
  • Fotocopi NPWP;
  • Kartu Izin Advokat.

Deskripsi Loker :
  • Merancang dan mereview kontrak;
  • Memberikan analisa Hukum;
  • Memberikan pendapat hukum internal;
  • Memastikan ketaatan perusahaan dan transaksi yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

 

7. Kepala Seksi Pajak


Kualifikasi Loker :

  • S1 Perpajakan/Akuntansi/Manajemen.
  • Pengalaman kerja minimal 2 tahun.
  • Diutamakan memiliki pengalaman sebagai konsultan pajak.
  • Diutamakan memiliki sertifikat brevet A & B.
  • Tekun, teliti, bekerja keras, dan disiplin.
  • Mampu mengoperasikan MS Excel dan e-Tax base.
  • Mampu memimpin dan bekerja sama dengan tim.
 Deskripsi Loker :


  • Bertanggung jawab atas pengarsipan dokumen perpajakan (termasuk dokumen untuk pemeriksaan pajak).
  • Bertanggung jawab atas perhitungan dan pembuatan PPN keluaran dan SPT PPN.
  • Melakukan perhitungan koreksi fiskal dan PPh badan.
  • Melakukan ekualisasi dan rekonsiliasi pajak bersama dengan Bidang Akuntansi.
  • Koordinasi dengan Account Representative dari KPP dan pemeriksa.
  • Koordinasi dengan Bidang Akuntansi dalam pembuatan listing utang pajak dan pajak dibayar dimuka.
  • Koordinasi dengan Bidang SDM sehubungan dengan PPh Pasal 21.

8. Staf Pengadaan


Kualifikasi Loker :
  • Laki-laki/Perempuan;
  • Usia 25 – 35 tahun;
  • Pendidikan S1 Jurusan Teknik/Hukum/Ekonomi Universitas terkemuka;
  • Pengalaman minimal 1 tahun di bidang:
    • konstruksi (sebagai perencana/pengawas/ kontraktor)
    • Pengadaan /procurement
    • Quantity Surveyor
    • Contract Management
  • Memiliki keterampilan interpersonal yang baik;
  • Familiar dengan sistem pengadaan di lingkungan pemerintah / BUMD / BUMN;
  • Dapat bekerja dalam jadwal yang ketat.

Kelengkapan Berkas
  • Lamaran Lengkap;
  • CV;
  • Fotocopi ijazah;
  • Fotocopi KTP;
  • Fotocopi Kartu Keluarga;
  • Fotocopi NPWP.


Catatan :
  • Loker 2017 Transjakarta Busway ditutup :  Mei 2018
  • PROSES SELEKSI TANPA DIPUNGUT BIAYA APAPUN
  • Pendaftaran akan ditutup setelah kebutuhan lowongan kerja terpenuhi.
  • Proses seleksi tidak dipungut biaya
  • Proses seleksi tidak dipungut biaya.
  • Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 021-80879449.
  • CP : Firdaus : 081290308878 / 085810444321
Bagaimana Anda tertarik untuk bekerja di Transjakarta Busway ?
Jika anda tertarik dengan loker hari ini bulan Mei 2018 ini yaitu yang memberikan informasi kepada anda tentang : Lowongan Kerja Terbaru Transjakarta Busway, Silahkan siapkan berkas Lamaran Kerja beserta kelengkapannya kemudian melakukan Pendaftaran via ONLINE melalui link Sumber dibawah ini :